Bawahan VS Filosofi Fashion

Kenapa staf atau pegawai disebut sebagai bawahan? Dan kenapa boss disebut atasan?

Well, pastinya karna peletakan posisi mereka dalam organization chart. Tapi kalo secara pengertian dari sisi fashion *berubah jadi Madam Igun* : bawahan berarti yang menutupi bagian vital kita, dan atasan hanya menutupi bagian setengah vital atau malah hampir vital. Okelah, mungkin buat sebagian orang gak vital sama sekali. *dibahas*

Kalo dikait-kaitkan dengan filosofi fashion (baca dalam hati : ala MI, Madam Igun) diatas -walaupun secara terpaksa, berarti staf itu merupakan bagian yang vital dalam sebuah organisasi. Yang baik apa buruk, yang hitam apa putih, yang manis apa manja (group), staf-lah yang notabene bergerak sebagai motor, bagian penting atas jalannya sebuah organisasi.

Nah, bukankah kita selalu menjaga bagian vital kita? *buka forum ke audiens*

Wow, ada yang jawab “bukan”?

Apa? di-oral? Maaf,salah denger, ternyata  jawabnya “di-obral”!  Oh, ok!

Mungkin kalo kembali dikaitkan kepada filosofi Madam Igun, seharusnyalah bawahan bagian luar maupun dalam diberikan rewards dan punishment sesuai dengan kinerja masing-masing. Bagaimanapun masing-masing pribadi pasti membutuhkan pengakuan, butuh eksistensi, baik atau buruk, Mulan atau Djameela. Walaupun pastinya sebagian besar bawahan tidak akan mengungkapkan kebutuhannya akan hal ini secara blak-blakan, bisa jadi hanya berani menuliskannya pada sebuah kertas, memasukkannya ke dalam botol, melemparkannya ke sungai yang hulunya ada di Adjerbaizan, dan berharap akan secara ajaib ditemukan oleh Kevin Cotsner .

Tapi menurut gw, pemberian reward dan punishment bukanlah beban moral atasan seutuhnya, karna atasan adalah rekan sejawat dari bawahan. Ibaratnya apa iya kemeja yang mutlak ngasih reward ato punishment ke celana secara mereka berpasangan cuma beda posisi ketinggian doang? Nggak kan?

Semua kembali kepada pemilik bawahan atau atasan, yaitu yang diatasnya lagi -bukaaann! bukan plafon, apalagi langit!. Boss boss-nya boss *ini ngomongin bawahan level berapa, gw juga bingung, Ngetz!*, tapi dengan bantuan penyampaian informasi yang disampaikan oleh atasan ke kuping di atas si boss lagi, karna terdekat posisinya (-naik angkot Cuma 2000 perak, kalo taksi tambah dikit lho ambil tengahnya aja). Dan kalo mau bawahan terbaiknya betah sih harus disegerakan penyampaian informasinya, dibantu gosokan-gosokan cadas kepada atasan oleh atasan bagian dalam yang sebenarnya gak penting-penting amat,sama persis kaya kaos dalam, kutang atau bra. Bukan kebutuhan primer.

Apa sebenarnya inti dari tulisan gw ini? NOTHING! MEANINGLESS! PASTILESS!

Ah, nanti aja..

“Ah” -bermakna penolakan, apalagi kalo penyebutannya sambil menggelengkan kepala dengan kecepatan 100 km/jam, dengan catatan tidak diikuti oleh kata No dan Yes.

“Nanti” -berarti harus menunggu! datanglahhh, kedatanganmu kutunggu.. t’lah lama, telah lama ku menunggu.

“Aja”  -ada sedikit aroma sepele. Sebelas dua belas sama aroma kentut.

Tiga kata itu bila digabungkan sungguh dashyat efeknya, tapi nggak sesungguh sahabat sih. (Sahabat Dashyat, red).

Sebenernya sih efek bisa terjadi setelah dilakukan, kalo nggak dilakukan ya gak bakal kejadian apa-apa. Ini sebenernya tujuan omongan gw kemana ya? Gw juga jadi belibet sendiri.

Well, adik-adik, ada baiknya kalian menyeduh secangkir teh hangat atau seember air kanji agar apa yang gw utarakan bisa dimengerti. Karna teh bisa menghangatkan, dan kanji untuk mengeraskan. *semakin tidak bermutu ini tulisan*

Kalian pasti sering berpikiran yang demikian kan? Kan? Kan? *echo* *patrio*

Contoh kasus misalnya gw sering menerima pesan blackberry messanger yang masuk pas kebeneran gw lagi sibuk dengan aktifitas yang sungguh menyibukkan dan harus mondar-mandir, sebut saja : TIDUR! Padahal itu sebenernya pesan yang sangat penting sekali, namun apa dayaku? Rasa kantuk sungguh mendera. Akhirnya reply-nya ntar pas udah bangun. Bangun dari tidur siang pada minggu kedua tahun kabisat.

Apa yang terjadi kemudian? Gw pasti diomelin sama yang kirim message. Untung gak sampe ngelaporin ke Komnas HAM dan ke Bapak Presiden.

Yang paling sering sih kalo tiba-tiba ada sms bertubi-tubi yang dilanjutkan dengan telpon membabi buta untuk menyampaikan pesan alias permintaan yang mungkin gw gak bisa penuhin. Gw camkan : gw bakal responnya ntar-an aja, disaat gw udah merasa siap dan punya kemauan serta semangat yang membara seperti tentara PETA. Mungkin sedikit menyebalkan, tapi apa mau dikata, siapa sih yang mau dipaksa dan terpaksa?

Jadi buat siapa aja yang kirim message ato telpon ke gw, trus ga dapat respon, harap dimengerti ya. Harus bersabar, karna orang sabar pantatnya lebar. Dan nanti ujung-ujungnya pasti gw respon juga, tapi bisa jadi di tahun kabisat yang gak tentu tahun kabisat periode yang mana. Gw bukannya sombong, cuma sedikit tinggi hati. *disambit bakiak*

Medsos Adalah Pencitraan White Beauty

social_media_strategySiapa sih hari gini yang ga terimbas dengan Media Sosial? besar kecil, tua muda, laki perempuan, Om Tante, Kakek Nenek, Anang Ashanty, bahkan Nassar Syaiful Jamil! *eh

Macem-macem jaman sekarang, banyak banget media yang bisa didapetin dengan gratis dan lapang dada tanpa helaan nafas menderu dan mendebu.

Ok, gw mau ngobrol serius. Serius banget!

Sesuai dengan ke-so last year an gw, akhirnya gw baru mengemukakan pendapat gw mengenai medsos ini besok, karna malem ini masih kurang beberapa jam biar bisa dimasukin kategori last year.

Mungkin udah ada jutaan atau bahkan puluhan postingan yang ngebahas hal ini sebelum dan sesudahnya, mungkin ada yang ngebahasnya di blog, mungkin ada di postingan medsos itself, mungkin juga ada yang ngebahas di forum online, atau bahkan ngebahas dalam hati (jadi hatinya dibagi dua, setengah ngedukung dan setengah lagi oposisi, trus hatinya debat kusir dibawah kulit dibalik beha, red.).

Tapi karna gw -gw tegaskan lagi-, adalah penganut paham so last year, maka gw bahas lagi ya.

Pssssttt… Pengguna Medsos sepenuhnya adalah pencitraan yang tidak membuat white beauty dalam setiap postnya *bisik2 dramatis ala ibu2 komplek*

Knapa gw bisa bilang kaya gitu? jreng..jrenggg.. ini alasannya :

  1. Ga pernah kan ngeliat ada yang posting foto awut-awutan, muka penuh jerawat, belekan, atau bahkan muka dua! yang terakhir jelas tidak mungkin, karna itu abstrak, hanya bisa dirasakan pake telepati dan telepenyet atau peceltele. So pasti pada naro foto terbaik masa kini dengan gaya teranyar, kalo bisa muka diedit semaksimal mungkin dengan segala cara, ke dukun patah kalo perlu!
  2. Postingan makanan ato tempat nongkrong pasti yang ajib dan cespleng bin keren dan mahal berkelas punya, jarang nemu foto makanan warteg di medsos yang di-photogrid-in trus dikasih effect sephia ato sexy lips *yakaleee*. Hampir ga pernah juga ngeliat postingan foto lagi nongkrong di warteg dengan latar meja lusuh bertaplakkan baligho bekas kampanye ato kursi plastik himpit-himpitan dengan manja.
  3. Quotes ala2 MarTeg, kebijaksanaan yang sempurna dan paripurna ala Justice Bao, atau bahkan meme yang berisi kata2 wasiat pelipur lara yang biasanya words is only word, sweet at lips alias manis di bibir, round the words alias memutar kata. (Jadi teringat meme yang dishare temen gw tadi pagi). Kata-kata yang dibaca aja ribet banget, hidup udah berat banget, gimana mo ngelakuinnya? kadang ngebacanya pake manggut-manggut sok iye tapi dalam hati menangis teriris sambil bersenandung “payung hitam”-nya Iis Dahlia.
  4. Ngepost “listening to” lagu yang lagi happening banget, padahal sebenernya ga sesuai selera juga. Ibarat kata gw ngepost “listening to Zacky (Rita Sugiarto)” padahal sebenarnya itu bukan selera gw banget, gw kan sukanya Merana (Rita S).

de-el-el

ah, sudahlah.. 4 poin diatas sebenernya adalah hal-hal yang gw banget. However Sosmed ngebantu gw banget dalam segala hal, re-connecting dengan old friends, sharing sad and laugh.

Lets connected on social media!

The Intern

the-intern-movie-poster


Well, di post yang kedua gw mo bahas film.

Sebenernya gw bisa disebut sebagai movie lovers angin-anginan, gimana nggak kadang tuh gw bisa marathon nonton film yang gw search di google sinopsisnya, trus gw donlod. Di lain waktu gw bisa hiatus dari nonton film sampe beribu tahun, dan lebih milih ngelonin beruang berhibernasi.

Nah, kemaren gw nyari2 film ringan yang kira2 bisa bikin santai. Klik sana sini, scroll up and down, nemu film yang menarik banget sinopsisnya : THE INTERN.

The Intern ini sebenernya film tahun 2015, thats mean gw gagal gaul, ketinggalan jaman, so last year, whatever makes you happy aja. Tapi intinya gw ga nyesel ngabisin kuota buat donlod, trus ditonton dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Btw, Gw kayanya terlalu alay kalo harus copas semua info dari wikipedia, selengkapnya boleh search disitu. Intinya, cerita yang diusung ni film walopun ada beberapa konflik, namun bener2 bikin tenang, melegakan dan berakhir dengan kebahagiaan lahir bathin.

Akting Robert De Niro dan Anne Hathaway beneran brilian, disarankan jangan nonton DVD yang bajakan kualitas rendah karna ga akan melegakan, malah sebaliknya. Mending hambur-hamburkan kouta buat donlod yang kualitas HD, berapa sih harga kuota sekarang? kan murah banget.

Kalo sampe ada yang mikir gw sales paket data, dan review film ini cuma topeng, maka niscaya kebahagiaan bukan milik anda, tapi kalo anda yang berfikiran sebaliknya, siap2 gw traktir minum jus sirsak. Gw traktirin minum jus sirsak sepuasnya deh, bagi2 rezeki mumpung jualan paket data gw lagi laris.

Eh?!? 🙂

At First

Hey, ho!

Gue kok tiba-tiba kangen dengan dunia blog beginian? kayanya udah berapa abad gw tinggalin. Blog gue yang terakhir udah di re-design tapi mood nulis gw kok masih nguap aja.

Nah untuk itu gw coba blog baru di wordpress ini, kliatannya lebih simple walopun template nya ga bisa diedit sesuai yang kita mau. Gak terlalu masalah sih, yang simple itu kadang lebih menarik. IMHO.